Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional

Dalam acara diskusi “Mencari Profil Ideal Menteri Pendidikan Nasional” yang digelar oleh Education Forum di Jakarta, Selasa (7/7). Diskusi menghadirkan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dan pengamat pendidikan Darmaningtyas.

Ada beberapa cacatan yang di ajukan oleh Guru Besar UNJ Prof. H.A.R. Tilaar, mengenai seorang Mendiknas tersebut, diataranya :

  1. Mendiknas harus seorang nasionalis yang paham betul berbagai hal yang diamanatkan oleh UUD 1945,
  2. Mendiknas harus mempunyai visi yang jauh ke depan karena pendidikan akan berdampak pada masa depan,
  3. Mendiknas harus mempunyai visi mengenai pendidikan itu sendiri,
  4. Mendiknas sebaiknya berasal dari non-partai agar tidak ada politisasi pendidikan,
  5. Mendiknas harus bertindak sebagai seorang manajer bukan birokrat, agar memberikan kesempatan kepada orang-orang di bawahnya untuk menyatakan pendapat ataupun memberi saran mengenai pendidikan

Selanjutnya pengamat pendidikan  Darmaningtyas, mengatakan: jabatan seorang Mendiknas itu sangat strategis, dan syarat yang di tawarkannya untuk seorang Mendiknas adalah :

  1. Mendiknas yang mampu berpikir luas, tidak hanya melihat pendidikan dari aspek pendanaan, tetapi juga dari perspektif filsafat manusia, peradaban, budaya, seni, sosial, dan keutuhan bangsa,
  2. Mendiknas yang mampu memahami bahwa pendidikan bukan sekadar masalah manajerial saja—sampai harus disertifikasi dengan ISO—tetapi bagian dari proses kebudayaan guna menumbuhkan kepercayaan dan integritas diri sebagai individu, warga, bangsa, dan negara,
  3. Mendiknas harus mampu mengembalikan sekolah dan perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi milik publik, bukan membiarkan kian elitis karena hanya dapat diakses kelompok berduit. Masyarakat miskin yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara terpaksa ke sekolah swasta yang biasanya harus ditanggung sendiri.

Sedangkan Prof. Daoed Joesoef  berpendapat bahwa Sistem pendidikan di Indonesia semakin lama semakin terasa menjauh dari tujuan yang dikehendaki oleh founding fathers seperti yang tercantum dalam UUD 1945, disebabkan oleh konsep pendidikan (education) yang diidentikkan dengan persekolahan (schooling).

“Padahal keduanya memiliki pemahaman yang jauh berbeda, pendidikan merupakan proses pembelajaran di sekolah yang membiasakan anak didik menggali dan memahami nilai-nilai yang dapat berguna bagi dirinya dan masyarakat,” ujar Daoed.

Daoed melanjutkan, sedangkan persekolahan merupakan pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Penguasaan materi itu nantinya diketahui lewat ujian dengan rentang waktu tertentu dengan penghargaan berupa ijazah dan gelar.

“Materi yang sudah dikuasai dianggap sebagai pengetahuan yang dapat memberikan kekuatan, karena itu anak-anak sejak jenjang sekolah paling bawah sudah diberikan berbagai macam pengetahuan di luar kapasitas mereka sebagai anak-anak yang masih butuh bermain,” tambah Daoed.

Selain itu, penyetaraan dalam pembelajaran yang diberlakukan pada semua anak didik dengan hasil ujian yang berbeda-beda juga membuat kebebasan anak diabaikan. Hasilnya, ujar Daoed, semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama di sekolah dengan konsekuensi mutu pembelajaran turun untuk mengejar kesetaraan.

“Sementara dalam pendidikan yang seharusnya diberlakukan ada tiga jenjang yaitu informasi, pengetahuan, serta kearifan,” tandasnya.

Menurut Daoed, informasi sebagai nilai diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Pengetahuan, yang juga sebagai nilai, diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

“Sedangkan kearifan diajarkan pada jenjang kuliah baik itu program sarjana, master, maupun doktor. Orang berpengetahuan dan punya gelar belum tentu memiliki kearifan,” ujarnya.

Pada saat, lanjut Daoed, ketika arus informasi semakin cepat, anak-anak menerima begitu banyak informasi yang bukan merupakan pengetahuan. Seharusnya, dari berbagai informasi itu dipilah-pilih yang masuk ke dalam pengetahuan dan tidak.

Hakikatnya, kata Daoed, pengetahuan berkaitan dengan sistem, tatanan, dan persepsi mengenai sebab-akibat. Dari pengetahuan itulah, dipilih lagi pengetahuan yang arif dan yang tidak untuk diaplikasikan dalam kehidupan.

“Jadi sebaiknya yang dijalankan dalam pendidikan di Indonesia adalah pendidikan bukan persekolahan,” ujar Daoed

Dikutip dari :

  1. Dicari, Sosok Mendiknas yang Ideal !
  2. Memperebutkan Mendiknas
  3. Jalankan Pendidikan Bukan Persekolahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s