Masih perlukah alat peraga?

Saya teringat ketika saya duduk di Sekolah Dasar tahun 70-an, saat itu kelas  dua kalau tidak salah. Suatu saat Bapak guru yang budiman menyuruh setiap muridnya membawa seratus buah lidi yang panjangnya 10 cm. Kemudian kami mempersiapkannya dari rumah, tak pelak lagi Ibu di rumah ikut sibuk membantu mencarikan sapu lidi.Kenangan itu terasa indah, apalagi paginya Pak guru yang budiman memberitahukan bahwa lidi itu bisa di pakai sebagai alat bantu hitung: tambahan, pengurangan dan perkalian. Pelajaran Matematikapun di lalui dengan secara gembira dan penuh antusias oleh semua murid, sehingga waktu pun tak terasa. Itulah kenangan yang mengasyikan belajar Matematika saat itu.

Apakah murid-murid sekarang mempunya kenangan yang serupa?

Ya pada dasarnya anak belajar dari hal-hal yang kongkrit, sehingga untuk mengetahui konsep-konsep yang abstrak anak memerlukan benda-benda yang riil sebagai perantara atau visualisasinya. konsep abstarak itu dicapai melalui tingkat-tingkat belajar yang berbeda-beda. Bahkan orang dewasapun yang pada umumnya telah mengetahui konsep-konsep abstrak, dalam keadaan tertentu sering memerlukan konsep visualisasi.

Dalam proses belajar mengajar ada hal yang penting bagi seorang guru yaitu meningkatkan motivasi anak didiknya. Salah satu cara dalam meningkatkan motivasi belajar adalah mengunakan alat peraga tadi. Sehingga diharapkan konsep abstrak yang baru di fahami murid akan mengendap, melekat dan tahan lama, tidak hanya sekedar lewat begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s